Soekarno dan Dokter Hewan


Saya ingat waktu SMP, ketika itu saya mendapat tugas sejarah, saya sudah lupa tugasnya apa, namun yang jelas dari tugas itu berujung pada saya yang googling mengenai akhir hidup Soekarno, presiden pertama Indonesia. Tercengang bukan main sewaktu saya mendapati ternyata akhir hidup beliau yang menjadi tahanan rumah, komplikasi penyakit, mendapat perawatan minim, dan dirawat seorang dokter hewan. Wait a minute, dokter hewan?

Rumor belaka beliau dirawat dokter hewan.

Sejarah mencatat ada banyak sekali dokter-dokter yang merawat Bung Karno menjelang akhir hayatnya, di antaranya ialah dr. Raden Soeharto, dr. Moewardi, dr. Soebandrio, dr. Johannes Leimena, dr. Oei Hong Kian, dan Tim Dokter Kepresidenan yang pada tahun-tahun terakhir kekuasaannya diketuai oleh Prof. Siwabessy dengan anggota dr. Soeharto, dr. Tan Sin Hin, dan Kapten CPM dr. Soeroyo.

Masa sulit Soekarno yang sakit-sakitan dimulai ketika Soeharto dilantik menjadi presiden pada 12 Maret 1967. Empat bulan kemudian, Tim Dokter Kepresidenan dibubarkan dan sebulan setelahnya, keluarga Soekarno diminta keluar dari Istana Merdeka. Beliau, Soekarno, hanya bisa tinggal di pavilium di lingkungan Istana Bogor.


Kesehatan Bung Karno terus menurun. Statusnya sebagai tahanan rumah juga makin memperburuk, beliau tidak bebas berobat, sebab dilarang ke Jakarta. Nahasnya, pada Desember 1967, Soekarno diminta keluar dari Istana Bogor. Hal itu membuatnya menetap di sebuah rumah di kawasan Batutulis. Situasi tersebut mendorong Haryati, istri yang mendampinginya, meminta izin langsung pada Presiden Soeharto supaya Bung Karno diperbolehkan pindah ke Jakarta.

Permintaan ini sempat tak ada jawaban dan baru pada Februari 1969 Bung Karno dipindah ke Wisma Yaso di Jalan Jenderal Gatot Subroto.

Dari titik inilah mengenai rumor mengenai Bung Karno yang dirawat dokter hewan  tersebar di berbagai media terutama media daring.

Para media kerap menuliskan perbedaan mendasar mengenai dua presiden Indonesia ini: Soekarno dan Soeharto yang juga sakit menjelang ajalnya. Saat Soeharto dirawat di Rumah Sakit Pertamina, beliau mendapat perawatan intensif 24 jam, berbeda dengan Soekarno yang menderita sakit dalam keprihatinan. Pada titik ini, media kurang cermat dalam menuliskan detail peristiwa tersebut. Salah satunya, kerap ditulis bahwa dr. Soeroyo yang merawat Soekarno merupakan dokter hewan. Salah besar! Informasi ini sama sekali tidak akurat!

Istri Soeroyo, Siti Hadidjah Soeroyo, sendiri yang menulis di surat pembaca Harian Kompas 24 September 2013. Ia meluruskan fakta yang terdapat pada buku Hari-Hari Terakhir Sukarno yang ditulis Peter Kasenda. Buku inilah yang menjadi rujukan media-media massa.


Penulis buku itu rupanya mengetahui fakta bahwa dr. Soeroyo sering menggunakan fasilitas Laboratorium Bakteriologi Kedokteran Hewan IPB. Bisa jadi dari situlah kesimpulan "dokter hewan" itu muncul. Padahal perihal tersebut dilakukan dr. Soeroyo untuk menyiasati keterbatasan fasilitas pemerintahan Soeharto kala itu. dr. Soeroyo sendiri jelas merupakan dokter umum lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tahun 1961.

Tulisan ini saya sadur dari Intisari No. 683, mengemasnya menjadi lebih singkat, padat, dan jelas, sesuai judul esai yang saya tulis kali ini.

Post a Comment

0 Comments