Perjuangan Masuk Perguruan Tinggi


Catatan juang ini dimulai pada tahun 2018. Saya masuk daftar siswa yang bisa mengikuti SNMPTN, tentu saya senangnya bukan main. Setelah konsultasi dengan keluarga, saya memilih program studi farmasi sebagai pilihan saya. Nah, dari sini banyak teman yang bertanya kenapa kok farmasi kenapa bukan desain padahal passion saya di bidang desain grafis? Ada dua alasan, yang pertama ibu dan kakak saya merekomendasikan farmasi sebagai pilihan kuliah dan tentu ini tak jadi masalah buat saya karena saya sendiri anak IPA dan yang kedua, kakak saya tidak ingin menggambar menjadi pekerjaan utama saya. Loh memang apa masalahnya dengan menggambar? Tidak akan saya jelaskan di sini karena terlalu rumit. Pembahasannya rumit karena berhubungan dengan kehidupan setelah kematian.

Kebodohan saya dimulai dari sini, saya lebih befokus pada Ujian Nasional ketimbang persiapan SBMPTN. Saya agak meremehkannya karena menilik kakak kelas saya banyak sekali yang lolos seleksi SBMPTN.

Saya lupa pilihan universitas apa saja yang saya pilih untuk SNMPTN dan SBMPTN, tetapi semuanya dengan program studi sama. S-1 Farmasi. Ah, saya ingat! Pilihan pertama SBMPTN saya adalah Universitas Airlangga. Singkatnya, saya gagal di keduanya, SNMPTN dan SBMPTN. Saya sedih dong. Akan tetapi, saya tidak putus asa.

Saya kemudian daftar Ujian Mandiri UGM dengan program studi S-1 Farmasi di pilihan pertama dan Ujian Mandiri UIN Malang dengan pilihan program studi yang sama pula di pilihan pertama. Untuk pilihan prodi di bawahnya saya sudah lupa.

Saya sadar, masa depan saya terancam nggak bisa kuliah tahun itu, jadi saya pun serius belajar dan berlatih soal-soal. Namun, Tuhan berkehendak lain. Saya gagal lagi.

Sebenarnya sebelum mendaftar ujian mandiri, saya juga melamar pekerjaan di perusahaan Kreavi sebagai ilustrator. Saya kirim CV dan portofolio saya. Saya pun lolos di seleksi tahap pertama, namun tak lolos di seleksi wawancara. Saya ingat betul pewawancara saya kala itu, Reza Azmi. Saat beliau bertanya: "Nanti kamu tinggalnya di Jakarta bagaimana dan dimana?" Saya tak mampu menjawab pertanyaan itu, mungkin gara-gara hal tersebut saya tidak lolos.

Kembali ke alur cerita, setelah saya tidak lolos kedua ujian mandiri di atas. Akhirnya saya sambat mengenai ketidakadilan Tuhan dan mulai ancang-ancang gap year.

"Kalau kamu nanti gagal masuk kampus lagi bagaimana?" Demikian respon kakak saya ketika saya cerita mau gap year.

"Ulang tahun depannya lagi."

"Ngabis-ngabisin umur saja kamu. Tidak masalah kamu lulusan perguruan tinggi mana, bukannya pada akhirnya setelah lulus nati gelarnya bakal sama juga dan yang paling penting kamu kelak dapat pekerjaan dan mengabdikan diri ke lingkungan. Nanti kucarikan kampus swasta yang lumayan murah dan berakreditasi bagus."

Saya nurut saja, karena saya tipe orang yang realistis bukan idealis. Bagi saya hidup itu menyebar kebaikan dan manfaat bagi orang lain bukan hanya mengejar ambisi. Oh iya, hampir kelewatan, saya juga daftar STAN kala itu. Sehabis SBMPTN, saya langsung ikut seleksi STAN dua/tiga minggu setelahnya, semua soal saya kerjakan dengan lancar. Tidak ada yang gugur. Walaupun begitu, saya tidak berharap banyak dikarenakan cita-cita saya tidak ingin jadi PNS tapi lebih ke arah pengusaha, namun kalau Tuhan memberi takdir PNS pada saya maka itu tiada masalah pula.

Pengumuman kelolosan STAN tahap final diumumkan kira-kira awal bulan Agustus, bersamaan dengan itu kakak saya bilang kalau dia sudah menemukan kampus bagus di Kota Kediri dan dia menambahkan kalau saya tidak lolos STAN dia akan langsung mengantarkan saya ikut tes ke Kota Kediri di kampus itu saat itu juga. Dan benar saja, saya tidak lolos STAN karena skor saya tidak cukup, kurang sepuluh poin, dan saat itu juga kami langsung berangkat untuk ikut tes.

Ending-nya saya lolos masuk kampus Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata dengan program studi S-1 Farmasi, perihal itu bikin saya resmi jadi mahasiswa farmasi angkatan 2018.

Perjuangan yang cukup melelahkan. Hikmah dari cerita ini adalah jangan sia-siakan waktu senggangmu, jangan memandang sebelah mata, dan belajarlah mulai dari sekarang ya, adik-adik. :)

Post a comment

0 Comments