Cerita Naik Ojek Pangkalan

Dari kampung halaman menuju perantauan makan waktu dua jam. Saya memutuskan berangkat kembali ke perantauan naik bus. Selain murah, bus zaman sekarang fasilitasnya nyaman dan hampir semuanya ber-AC. Rencananya, sesampainya di sana nanti saya bakal pesan ojek online, berhubung kos-kosan saya dengan terminal berjarak satu kilometer lebih sedikit.


Cerita bermula dari sini. Sewaktu tiba di terminal dan hendak keluar dari bus, saya hampir terjatuh, maklum barang yang saya bawa banyak. Di hadapan saya sudah  berdiri tukang ojek pangkalan, ia bertanya saya mau kemana. Saya pun menjawab lokasi yang saya tuju.

Si tukang ojek merespon bahwa tempat itu dekat, ia pun langsung membantu membawa barang bawaan saya. Terlanjur, saya pun akhirnya mengikuti. Kala itu, saya pada akhirnya naik ojek pangkalan.

Kira-kira butuh waktu lima belas menit buat sampai ke kos.

"Berapa, Pak?" Saya pun bertanya tatkala kami sudah sampai. Saya sudah ancang-ancang mengeluarkan uang sepuluh ribu rupiah dari dalam casing ponsel.

"Empat puluh ribu."

Saya kaget. Jarak satu kilometer lebih sedikit bayar empat puluh ribu? Serius, saya langsung menyesal naik ojek pangkalan. Sehabis peristiwa itu, saya langsung buka aplikasi ojek online yang tertanam di ponsel saya, membandingkan harga antara ojek pangkalan dengan ojek online. Ternyata... perbandingannya sangat jauh! Ojek online hanya diminta bayar lima ribu.

Seharusnya kalau naik ojol saya bisa hemat tiga puluh lima ribu.




Senin, 22 April 2019. Penyesalan itu masih ada.

Post a comment

1 Comments

  1. yaa habis gimana ya, ojek pangkalan kesel ama ojol, tapi kelakuan ojek pangkalan begitu.

    ReplyDelete